Jelajah budaya suku alifuru dan Bhakti sosial SD Kristen di negeri atas awan

Jelajah budaya suku alifuru dan Bhakti sosial SD Kristen di negeri atas awansd

            Suku alifuru adalah suku asli penduduk pulau seram, alifuru dalam bahasa adat yang berarti adalah “orang yang masih suci” atau dalam kata lain seseorang yang baru lahir dan belum memilih agama. Ciri khas orang alifuru adalah memakai kain merah sebagai ikat kepala semua kalangan boleh memakai ikat kepala, tapi pada saat acara adat berlangsung masyarakat diharuskan memakai kain berang atau ikat kepala berwarna merah. Suku alifuru terdapat di suatu daerah terpencil di sebelah selatan documentasikaki gunung binaiya yang bernama desa piliana, pilaina berasal dari bahasa adat “pilianika” yang berarti “sudah terang”. Masyarakat pulau Seram juga menjuliki desa Piliana sebagai negri di atas awan. Desa piliana sudah ada sebelum kemerdekaan Indonesia dan sampai sekarang desa piliana sudah berumur 73 tahun di desa piliana terdapat dua soa (marga) asli alifuru yang mendiami desa tersebut , diantaranya marga : ilelapotoa (katulistiwa) dan latungmutuani (tongkat raja).

            Desa piliana dipimpin oleh seorang raja, Pemilihan raja diadakan 5 tahunsekali, yang dipilih oleh masyarakat dan calon raja harus berasal dari dua marga diatas. Upacara pelantikan raja biasanya diadakan di rumahadat yang diikat menggunakan rotan dan pelantikan disaksikan oleh seluruh masyarakat, padasaat pelantikan raja berlangsung masyrakat diharuskan memakai baju adat memakai kain berang atau ikat berwana merah dan memakai manik-manik khas daerah tersebut dan Hal terunik yang terdapat pada masyarakat di desa piliana adalah setiap hari jum’at masyarakat diharuskan memakan pinang.

            Terlepas dari ulasan-ulasan diatas ada beberapa kebiasaan yang sering dilakukan oleh masyarakat tersebut hingga saat ini sudah menjadi budaya mereka dan biasanya dilakukan pada saat pelantikan raja atau hal-hal yang berkaitan dengan budaya dan adat-istiadat yang ada di daerah tersebut, salah satunya adalah upacara perkawinan, tarian adat, tipa dan keluar anak

  • Upacara perkawinan

Sama halnya dengan dunia luas masyarakat piliana telah memiliki pemahan yang baik contohnya dalam sebuah pernikahan.Pernikahan tersebut dinyatakan SAH apa bila telah melaksanakan pernikahan secara adat dan tidak diharuskan untuk menikah lagi.

  • Tarian adat

Tarianadatataubiasanyadisebuttaricakaleletarianinidilaksanakanpadasaattertentuyaitusaat natal, tahunbaru, pelantikan adat dan pembongkaran adat serta dilaksanakan pemukulan tipa

  • Tipa

Tipa terbuat dari kayu luhe dan kulit rusa selanjutnya diikat menggunakan rotan.Tipa biasanya diletakan pada rumah bapa raja, cara memukul tipa ini berfariasi contohnya :

  • Dipikul 5 kali untuk memanggil semua negri
  • Dipukul 3 kali untuk memanggil tua-tua adat
  • Dipukul berkali-kali atau panjang untuk memanggil masyarakat
  • Jika dipukul dengan cepat artinya ada masyarakat yang terkena musibah
    • Keluar anak

Keluar anak adalah sebutan masyarakat sekitar untuk seorang perempuan dewasa untuk beranak( melahirkan ), jika yang lahir adalah anak pertama maka akan dilakukan acara adat dan untuk anak yang kedua atau seterusnya akan dilaksanakan gunting rambut atau dalam bahasa sehari-harinya adalah amberambu

            Cara bertahan hidup masyarakat alifuru di desa piliana adalah dengan cara berburu disekitar hutan yang terdapat dikaki gunung binaiya, hewan yang sering diburu masyarakat setempat adalah rusa, babi hutan, kusu (kus-kus) dengan cara memakai panah atau jerat, tetapi sejak masuknya Balai Konservasi Taman Nasional Manusela dan melakukan sosialisasi tentang bagaimana caranya bercocok tanam, dengan lambat laun masyarakat didaerah tersebut sudah mulai mengerti pentingnya bercocok tanam bagi generasi mereka dan masyarakat tidak lagi berburu rusa yang menjadi hewan endemic desa piliana, secara tidak langsung ada beberapa hewan yang dipelihara oleh masyrakat yaitu anjing dan ayam.

Foto ETA III MAPALAST : Proses pembuatan Sagu di desa piliana

            Makanan pokok yang biasa dibuat oleh masyarakat adalah berasal dari poplhon sagu, pohan sagu adalah tanaman tropis yang tumbuh disepajang kaki gunung binaiya, cara pengolahan tanaman sagu adalah, tanaman sagu yang di potong menjadi beberapa bagian, kemudian dibelah menjadi 2 bagian kemudian ditumbuk menggunakan sebuahkayu yang berbentuk seperti kapak, kayu tersebut berasal dari pohon kayu nani, proses selanjutnya adalah sagu dimasukan kedalam saringan dan diinjak-injak hingga sarinya keluar dan ditampung didalam kolam yang didesain dengan terpal dengan lebar 3x4m selama 1 hari kemudian airnya dibuang maka endapanya dari pati sagu yang berwarna putih itu yang namanya sagu. Selanjutnya diolah menjadi papeda, sinoli dan makanan lainya. Masyarakat juga membuat bedeng atau gundukan tanah dengan lebar beberapa meter untuk menanam keladi, kacang tanah, bawang merah, kacang hijau, dan kasbi (singkong ) masyarakat juga menanam tanaman umur panjang yaitu pala, cengkih, sagu, kelapa dan kakao. Tanaman-tanaman yang ditanam oleh masyrakat bukan hanya untuk kebutuhan sehari-hari melainkan juga memiliki nilai jual yang tinggi yang dapat memajukan sumber daya manusia didesa tersebut. desa piliana masih jauh dari yang namanya sentuhan tangan pemerintah. seperti akses listrik yang belum sampai didesa tersebut, sudah ada kabel listrik yang di pasang oleh PLN, tapi sayang tiang listrik dan kabel tersebut hanya numpang lewat melalalui desa pilana sementara aliran listriknya terus di alairi ke masyarakat kota.

            Dalam kegiatan Ekspedisi Tanah Air III MAPALAST ini, yang di lakukan di gunung binaiya pulau seram,maluku.selain tim melakukan pendakian,jelajah budaya suku alifuru,kami juga melakukan Bhakti Sosial pembagian buku dan pendataan sekolah di desa piliana, cukup menyenangkan ketika kami melihat bangunan sekolah yang sangat memadai, bangunan sekolah yang semi permanen dan atapnya menggunakan genteng dan mempunyai 3 ruang kelas, itulah SD Kristen Piliana yang berada di kaki gunung binaiyaa. SD Kristen Piliana sudah ada sejak tahun 40an dan umerupakan satu-satunya sekolah disini. Sekolah ini sudah di pindah ke bagian atas desa karena bangunan sekolah yang lama yang tepatnya berada di tengah desa piliana telah rapuh dan sekarang di bangun kembali dengan bantuan PNPM mandiri.

            SD Kristen Piliana ini saat kami kunjungi mempunyai jumlah siswa 68 siswa dengan jumlah guru yang aktif hanya 2 guru,itu terdiri dari kepala sekolah dan 1 tetap dan 2 guru lagi yang masih honorer,jadi total guru ada 4 orang termasuk kepala sekolah. di Sekolah ini pembelajaran dari hari senin-sabtu dengan jam belajar 07.00-13.00. program belajar mengajar untuk 1 hari ada 2 bidang studi yang di ajarkan, ada bidang studi matematika,bahasa indonesia,agama,sains,pkn, dan ips. pemakaian seragam SD untuk hari senin putih putih,selasa dan rabu memakai seragam merah putih,hari kamis memakai seragam batik,hari jumat memakai pakaian olahraga di karenakan hari jumat ada kegiatan jumat bersih dan untuk hari sabtu memakai seragam pramuka.

Sekutip harapan dari guru dan siswa SD Kristen Piliana adalah semoga kedepan adanya bantuan guru-guru tambahan,buku buku pelajaran dan tambahan ruangan kelas.

Hal terakhir yang menjadi pusat perhatian kami di desa Piliana adalah sebuah Mata air yang dinamakan air jodoh atau ninifala dalam bahasa adat piliana. ditengah-tengahnya terdapat 2 pohon goni yang di ibaratakan sebagaji pasangan laki-laki dan perempuan, warna airnya juga tidak seperti air yang biasa kita lihat ditempat manapun karna air jodoh yang terdapat dikaki gunung binaiya berwarna putih bagaikan warna air susu.

Inilah sekilas cerita tentang kehidupan suku alifuru di desa Piliana dan Bhakti sosial yang kami lakukan pada saat melakukan Ekspedisi Tanah Air III Mapalast di gunung Binaiya, Pulau Seram Maluku.

 

Semoga Bermanfaat . 🙂